Tak Disangka! Beginilah 5 Kelakuan Intim Manusia Purba

Beginilah 5 Kelakuan Intim Manusia Purba – Apakah anda sudah mengetahui semua tentang manusia purba? Baik itu hal mengenai sejarah, terminologi dan definisi, ekspansi ukuran otak, jenis, serta bagaimana mereka (manusia purba) berbuat intim? Seluruh pernyataan tersebut akan saya bahas satu-persatu, untuk anda yang ingin mengenal lebih jauh perihal manusia purba. Silahkan lanjutkan bacaan anda hingga usai penulisan ini.

Sejarah Manusia Purba

Manusia purba atau disebut juga dengan Prehistoric People (Manusia Prasejarah) merupakan jenis manusia yang hidup sejak zaman belum mengenal tulisan. Perkataan manusia purba sebenarnya berasal dari seseorang bernama Robin Dunbar. Dialah orang yang pertama menyebutkan wacana seperti itu dimana Dunbar menilainya lewat beberapa kriteria dari manusia purba seperti pada hubungannya antara ukuran otak dan besar kelompok hominid, dengan pendapatnya bahwa karena manusia purba mempunyai otak yang besar untuk demikian mereka tentu tidak dapat hidup bersamaan dalam satu kelompok yang melebihi 120 individu dengan perbandingan lebih kecil ketimbang kehidupan simpanse yang hanya mencapai 50 individu saja.

Sejarah manusia purba

Hominid merupakan nama golongan dari manusia purba, yang mana juga memiliki beberapa contoh jenis berdasarkan klarifikasinya. Menurut data yang beredar menyebutkan bahwa manusia purba dalam melakukan interaksi bukanlah menggunakan bahasa, melainkan gerakan tubuh, Hal ini diyakini demi menghindari perpecahan dan kekompakan pada kelompok yang besar.

Banyak sejarahwan atau ahli yang manyatakan bahwa kehidupan mereka itu sudah dimulai sejak periode 500,000 tahun lalu dengan berbagai kategori/jenis manusia purba modern seperti Homo heidelbergensis, neanderthalensis, antecessor, sapiens serta erectus.

Ekspansi Ukuran Otak

Ekspansi ukuran otak - Manusia purba

Diketahui berdasarkan dari beberapa sumber yang menyebutkan bahwa ukuran otak manusia purba telah berkembang secara signifikan dari sekitar 900 kubik cm (Homo Erectus) menjadi 1300 kubik cm. Sejak ukuran ini mulai mencapai puncaknya, maka ukuran tersebut bakal menurun juga.

Jenis Manusia Purba

Ada sekitar enam atau lebih dari itu jenis manusia purba yang berhasil ditemukan melalui beberapa identifikasi ciri-ciri dan juga fosilnya. Ini semua adalah manusia purba Indonesia, berikut:

1. Meganthropus Paleojavanicus

Ini merupakan salah satu jenis manusia purba yang pernah ditemukan pertama kali oleh G.H.R von Koenigswald pada tahun 1936 di Indonesia. Melalui pengecekan di sejumlah bagian fosilnya, maka ditetapkanlah bahwa ini adalah Meganthropus Paleojavanicus. Nama itu sendiri berasal dari beberapa kata yakni megan= besar, anthropus= manusia, paleo= tua, dan javanicus= Jawa. Fosil jenis ini berasal dari lapisan pleistosen bawah. Diketahui bahwa mereka dapat bertahan hidup dengan cara memakan-makan dari tumbuhan dan buahan.

Ilustrasi Meganthropus Paleojavanicus - Fosil

Meganthropus diperkirakan telah ada sejak 1-2 juta tahun yang lalu, atau lebih tepatnya pada zaman batu tua. Jika anda ingin melihat beberapa potongan fosilnya seperti rahang bawah dan atas, ini terdapat di Museum Sangiran, Jawa Tengah, yang mana telah diakui oleh UNESCO sejak tahun 1995.

Ciri-ciri Meganthropus Paleojavanicus:

  • Tinggi badan sekitar 165-180 cm
  • Tubuhnya kekar
  • Besar (volume) otak 900 cc
  • Rahang dan gerahamnya yang besar
  • Tidak berdagu
  • Kening yang tebal dan melintang sepanjang pelipis
  • Hidungnya lebar

Beberapa hasil budaya dari Pithecanthropus Erectus yang diketahui:

  • Kapak perimbas
  • Kapak penetak
  • Kapak gengam
  • Pahat gengam
  • Alat serpih
  • Alat-alat tulang

2.Pithecanthropus Erectus

Pithecanthropus Erectus adalah suatu jenis fosil manusia purba yang paling banyak di Indonesia dan pertama kali ditemukan oleh Eugne Dubois pada tahun1891 yang ketika itu melakukan penelusuran di Trinil. Jenis ini tergolong ke dalam kelompok homo erectus dimana perkataan Pithecanthropus Erectus itu sendiri berasal dari bahasa Yunani yang berarti manusia-kera yang dapat berjalan tegak.

Ilustrasi Pithecanthropus Erectus - Fosil

Menurut dari beberapa sumber mengatakan, Eugene Dubois sebenarnya tidak terlalu berhasil menemukan fosil jenis tersebut, mungkin hanya ada tempurung tengkorak, tulang paha atas, dan tiga buah gigi saja. Fosil lebih lengkap ternyata ditemukan oleh Gustav Heirich Ralph von Koeningswald, pada tahun 1936, dimana saat ini temuannya tersebut bisa anda jumpai di museum Sangiran. Penemuan dari kedua orang itu digadang-gadang sebagai manusia purba tertua di Indonesia yaitu diantara 30,000 hingga 1 juta tahun yang lalu.

Ada 2 jenis lainnya yang termasuk Pithecanthropus Erectus di Indonesia yakni pithecanthopus mojokertensis dan pithecanthropus soloensis yang mana memiliki beberapa ciri hampir serupa yaitu:

  • Tinggi badannya diantara 165-180 cm
  • Volume otaknya 750-1350 cc
  • Bertubuh tegap dan agak gelap
  • Otot tengkuk sebagai tempat perlekatan yang besar dan kuat
  • Tonjolan kepala bagian kening dan belakang yang tebal
  • Muka menonjol ke depan
  • Berhidung lebar
  • Tulang pipi yang kuat dan tebal sekaligus menonjol
  • Rahang bawah yang kuat
  • Tulang belakang tajam dan menonjol

3. Pithecanthropus Mojokertensis

Fosil manusia purba jenis Pithecanthropus Mojekertensis ditemukan pada tahun 1936 oleh dua ahli bernama Widenreich dan Gustav Heirich Ralph von Koeningswald di sebuah desa yang terletak di Mojokerto, Jawa Timur.

Ilustrasi Pithecanthropus Mojokertensis - Fosil

Kedua orang ahli ini memiliki pendapat yang berbeda-beda terkait dengan nama dari jenis tersebut. Widenreich menjulukinya pithecanthropus robustus, sedangkan von Koeningswald menyebutnya sebagai pithecanthropus mojokertensis dimana ia menganggap sesuai dengan tempat ditemukannya makhluk tersebut. Pithecanthropus Mojokertensis yang pernah hidup sekitar 2-2,5 juta tahun silam ini memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

  • Tinggi badannya diantara 165-180 cm
  • Bertubuh kekar
  • Volume otaknya 750-1350 cc
  • Kening yang menonjol
  • Tidak berdagu dan tulang geraham serta rahangnya yang kuat
  • Tulang tengkorak tebal dengan bentuk yang lonjong

4. Homo (Pithecanthropus Soloensis)

Fosil manusia purba tersebut pertama kalinya ditemukan oleh Ter Haar, Oppenorth dan Von Koeningswald, pada tahun 1931-1933 di beberapa tempat seperti Ngandong, Blora, di Sangiran serta Sambung Macan, Sragen. Makhluk yang diperkirakan sempat hidup sekitar 300,000-900,000 tahun lalu ini, diketahui banyak dijumpai di kawasan Asia, Eropa dan Afrika, yang berdasarkan dari lapisan pleistosen atas.

Ilustrasi Homo (Pithecanthropus Soloensis) - Fosil

Menurut si penemunya, Homo Soloensis yang mana merupakan revolusi dari jenis Mojokertensis tersebut mempunyai tingkatan lebih tinggi ketimbang dengan Pithencanthropus Erectus.

Ciri-ciri Homo (Pithencanthropus Soloensis):

  • Tinggi badannya 130-210 cm
  • Berat badan 30-50 kg
  • Volume otaknya 1000-1300 cc
  • Wajahnya lebar dan tidak menonjol ke depan
  • Dahinya dan mulutnya menonjol
  • Otot tengkuk dapat menyusut
  • Berdiri lurus dan bisa berjalan lebih sempurna

Beberapa hasil budaya dari Homo Soloensis:

  • Kapak gengam
  • Kapak perimbas
  • Alat tulang
  • Alat serpih
  • Serta peralatan lainnya yang ada di zaman dahulu

5. Homo Wajakensis

Homo Wajakensis menurut yang menumukannya yakni Van Riestchoten pada tahun 1889 tersebut adalah salah satu jenis manusia purba yang pernah tinggal dan hidup di desa Wajak, Tulungagung, Jawa Timur. Sejumlah temuan fosil yang ditemukan itu selanjutnya diteliti oleh Eugene Dubois dengan menyebutkan bahwa makhluk ini termasuk dalam ras Australoide, yang bernenek moyang-kan dari Homo Soloensis dengan keturunan bangsa Aborigin. Selain itu, dia juga berkata ini memiliki kaitan erat dengan beberapa kemiripan terhadap fosil manusia Niah yang terdapat di Serawak-Malaysia, manusia Tabon di Palawan-Filipina, dan Australoid di Cina Selatan-Australia Selatan.

Ilustrasi Homo Wajakensis - Fosil

Sangat sulit untuk melihat dan menentukan darimana keturunan asli Homo Wajakensis sebenarnya berasal, sebab mempunyai kesamaan akan ciri-ciri dalam ras Mongoloid, Austromelanesoid, juga suku Melayu-Indonesia, tetapi seiring berevolusinya waktu hingga sekarang ini menjadi ras dari Austromelanesoid.

Di samping hal itu, jenis tersebut diyakini memiliki kepintaran membuat peralatan berbahan batu dan tulang serta juga mengetahui untuk bagaimana cara yang benar dalam memasak.

Ciri-ciri Homo Wajakensis:

  • Tinggi badannya 130-210 cm
  • Berat badan 30-50 kg
  • Volume otaknya 1300 cc
  • Berasal dari lapisan pleistosen atas
  • Hidup diantara 25,000-40,000 tahun lalu

6. Homo Sapiens

Ciri-ciri dari Homo Sapiens:

  • Tinggi badannya 130-210 cm
  • Mempunyai otak yang lebih berkembang ketimbang manusia purba lainnya
  • Otot geraham, gigi dan rahang dapat menyusut
  • Lebih-kurang keningnya menonjol
  • Mirip dengan ras Mongoloid atau Austramelanosoid

Ilustrasi Homo Sapiens - Tengkorak Kepala

Nama manusia purba ini diangkat oleh Carl Linnaeus, dari bahasa Latin noun homo (genetive horminis) yang berarti manusia, baik itu pria ataupun wanita. Homo Sapiens yang ditemukan di Indonesia memiliki tiga jenis golongan fosil berbeda yaitu homo soloensis, wajakensis dan floresiensi. Tiap fosil tersebut membawa banyak perdebatan diantara sejumlah ahli karena dianggap sebagai kerangka manusia modern dan ada juga yang menyebutkan bahwa ini bukanlah manusia purba. Namun pada initinya adalah makhluk itu merupakan manusia, bukan lagi dikategorikan sebagai manusia kera.

Perlu anda ketahui bahwa homo sapiens adalah jenis yang berusia paling muda diantara semua manusia purba lainnya yang pernah ada di Indonesia. Berdasarkan gambaran dari fosilnya, homo sapiens pernah hidup sekitar 15,000-40,000 tahun silam, atau sebelum masehi.

Terminologi dan Definisi

Terminologi dan Definisi - Manusia purba dan modern

Sejumlah ahli taksonomi menuturkan bahwa mereka lebih tidak suka untuk menganggap manusia purba dengan modern itu sebagai spesies tunggal, tetapi beberapa spesies yang berbeda. Dalam hal ini, para ahli menggunakan standar Homo rhodesiensis atau neaderhalensis. Sebagai contohnya, neanderthal disebut dengan Homo sapiens neanderthalensis, sedangkan heidelbergensis adalah Homo sapiens heidelbergensis. Ini dikarenakan Homo sapiens merupakan spesies tunggal yang terdiri atas berbagai subspesies yang mengikuti perkembangan dari masa manusia purba dan modern.

Beginilah 5 Kelakuan Intim Manusia Purba

Jelas, setiap manusia yang hidup di dunia ini pasti memiliki tingkah dan perilaku seksual. Berhubungan intim adalah salah satu caranya. Selain sebagai kebutuhan biologis, berhubungan intim dengan lawan jenis juga merupakan tujuan dari untuk membuahkan keturunan.

Sejak zaman dahulu kala, hampir semua manusia telah mengenal apa yang namanya berhubungan intim, bahkan itu ketika di purbakala. Manusia pada saat tersebut, memenuhi hasrat seksualnya atau persetubuhan dengan cara dan tingkah laku yang dapat dibilang amat tidak wajar, aneh, dan konyol untuk ditiru. Mengapa demikian? Temukan jawabannya di bawah ini:

1. Perkawinan sedarah

Kalau di era sekarang ini Indonesia, bahkan di seluruh dunia melarang dan menentang keras adanya perkawinan sedarah karena dianggap tak manusiawi sekaligus tak bermoral, maka pada zaman dahulu (purba) contoh semacam perbuatan tersebut ternyata boleh dilakukan.

Manusia purba - Perkawinan sedarah

Saat itu, manusia purba dapat melakukan perkawinan sedarah atau hubungan intim terhadap sanak-saudaranya sendiri seperti misalnya ibu dengan anak, kakak dengan adik, dll. Terungkapnya fakta tersebut lantaran di tahun 2013 lalu, para ahli dari berbagai penelitian menemukan hasil CT scan pada bagian lubang mahkota berupa tengkorak yang terlihat adanya mutasi genetik cacat akibat perkawinan sedarah. Gila banget bukan?

2. Bercinta dengan binatang

Lewat penelusuran dan penyelidikan dari sebuah mural (lukisan dinding) yang ditemukan di suatu gua, negara Perancis, membuktikan kalau manusia purba juga melampiaskan nafsu bejatnya tersebut terhadap binatang. Ini jelas sekali terlihat pada lukisan dinding itu, dimana menampilkan seekor singa tengah mengulum alat vital manusia raksasa, yang diyakini adalah seorang wanita.

Manusia purba - Bercinta dengan binatang

Ditempat terpisah, lukisan lainnya juga berhasil ditemukan di Italia, yang memperlihatkan seorang pria sedang berhubungan intim dengan seekor keledai. Kedua lukisan tersebut dipercaya merupakan peninggalan dari para manusia purba ketika ingin melepaskan gairah seksual mereka.

3. Menggunakan dildo

Manusia purba - Menggunakan dildo

Benda berbentuk dildo, atau alat bantu sex untuk wanita yang terbuat dari kayu pernah ditemukan di Hohle Fels Cave, bagian barat daya Jerman. Menurut sejarawan bernama Timothy Taylor, bentuk dari alat tersebut memiliki ukuran yang sangat mirip dengan aslinya. Ini diukir dengan polesan yang begitu halus hingga menyerupai penis (kemaluan pria), guna dipakai saat ingin bercinta. Selain untuk hal itu, ‘dildo’ juga dimanfaatkan oleh mereka (manusia purba) sebagai alat pemukul.

4. Patung venus simbol kesuburan

Pada masa dahulu kala, tepatnya mitologi Yunani; semua manusia lebih mempercayai keberadaan patung venus, dimana ini adalah gambaran dari dua sosok Dewi bernama Afrodit dan Etruscan deity Turan.

Patung Venus - Dua dewi kesuburan yang disembah manusia purba

Afrodit merupakan dewi cinta, kecantikan, dan seksual, yang diyakini bisa memecah belah para dewa hanya dengan melihat parasnya saja. Sementara, Etruscan adalah dewi yang memiliki simbol cinta dan kesuburan, hal ini juga mereka percayai sebagai ibu dari seluruh wanita di dunia.

Konon katanya, mereka (manusia purba) hampir setiap harinya melakukan penyembahan terhadap kedua patung yang tampak sangat vulgar tersebut demi mendapatkan kebaikan untuk berbagai hal berbau asmara. Perlu anda ketahui bahwa wanita di masa itu kalau sedang mengalami kehamilan, sontak mereka akan sangat dihargai karenanya tersebut adalah keajaiban.

5. Aborsi yang brutal

Tidak hanya sekarang saja mungkin anda sering melihat wanita hamil diluar nikah yang melakukan aborsi, akan tetapi hal demikian juga pernah terjadi di masa purbakala. Ada berbagai alasan yang sering terlontar mengapa seseorang dengan teganya membunuh bayi dalam kandungan, seperti di era saat ini karena alasan malu hamil di luar nikah, dan kekasihnya yang tidak mau bertanggung jawab. Namun alasan ini tidak serupa ketika zaman manusia purba, yang mana menganggap kehamilan hanya akan memberatkan diri, terlebih lagi penambahan dari jumlah populasi manusia juga bakal bertambah.

Manusia purba - Aborsi yang brutal

Tak ayal, aborsi menjadi salah satu langkah yang harus diambil oleh mereka. Dengan brutalnya mereka membantai dan membunuh bayi yang tak berdosa ketika masih dalam kandungan atau bahkan ketika sudah terlahir. Jadi, meski saya sempat mengatakan bahwa kehamilan di masa itu merupakan keajaiban dan harus dihargai, namun tetapi tidak semua manusia menyukai hal tersebut.

Demikianlah penyampaian saya perihal artikel yang membahas tentang Manusia Purba. Semoga apa yang telah saya sampaikan ini mulai dari sejarah, ekspansi, jenis, definisi, dan juga kelakuan intim manusia purba tersebut, dapat anda pahami sekaligus pelajari demi menambah pengetahuan serta wawasan anda. Terima kasih atas perhatiannya, sampai bertemu kembali di lain artikel saya selanjutnya yah..

 

Attachment

Patung Venus - Dua dewi kesuburan yang disembah manusia purba Manusia purba - Menggunakan dildo Manusia purba - Bercinta dengan binatang Manusia purba - Perkawinan sedarah Terminologi dan Definisi - Manusia purba dan modern Ilustrasi Homo Sapiens - Tengkorak Kepala Ekspansi ukuran otak - Manusia purba Ilustrasi Homo Wajakensis - Fosil Ilustrasi Homo (Pithecanthropus Soloensis) - Fosil Ilustrasi Pithecanthropus Mojokertensis - Fosil Ilustrasi Pithecanthropus Erectus - Fosil Ilustrasi Meganthropus Paleojavanicus - Fosil Sejarah manusia purba Kelakuan para manusia purba saat berhubungan intim

admin

Seorang penulis blog yang sedang belajar meningkatkan kualitas konten sebaik mungkin untuk dipersembahkan terhadap pembaca setia Utahlotusmuseum.

Saya orang yang supel, gak suka digauli tetapi suka menggauli :) Salam dua jempol adalah predikat saya. Makan jadi gendut, gak makan jadi kurus (dua hal yang tidak saya inginkan).